Rabu, 06 Juni 2012

Penjabaran Sifat Salbiyah.


   Sifat Salbiyah adalah Meniadakan sifat-sifat yang tidak layak bagi Allah SWT. Adapun sifat-sifat Allah yang termasuk kedalam sifat salbiyah ini ada 5, yaitu: Qidam, Baqa, Mukhalafatu lil hawaditsi, Qiyaamuhu binafsihi, Wahdaniyat.
a                Qidam artinya terdahulu. Maksudnya tidak berpermulaan.Sebelum adanya sesuatu, jagat belum digelar, bumi langit belum ada, arah barat-timur, utara-selatan, atas-bawah juga belum ada. Yang ada hanyalah Allah semata yang bersifat Jalal ( yang perkasa ).
Disini Allah belum dikenali, karena Dia Yang Maha Perkasa belum menampakkan keberadaanNya. Yang mengetahui adanya Dia hanya Dia sendiri. Maka keadaan semacam ini disebut: Laa Ta'yun, artinya belum menampakkan Diri ( belum bertajalli ). Kondisi semacam ini sama dengan manusia jauh sebelum kelahirannya. Misalnya : kita sekarang ini berumur tiga puluh tahun, tiga puluh satu tahun yang lalu kita dimana? Siapa yang mengetahui keberadaan kita, dan apa yang kita rasakan saat itu? Kita tidak mengetahuinya, karena kita belum bertajalli atau belum menampakkan diri. Martabat atau kedudukan semacam ini dikenal dengan istilah Martabat Ahadiyat. Allah Ijen Tur Ngijeni. Tunggal sendiri tidak ada yang menemani. Inilah makna firman Allah SWT: “ Qul Huwallaahu Ahad.” Artinya: “ Katakanlah hai Muhammad Allah itu Satu.”
     Kalau yang Ada, terdahulu hanyalah Allah, lalu asal muasal bumi-langit dengan isinya, termasuk manusia? Dengan apa mereka itu diciptakan? Apa bahannya?
Nabi Muhammad SAW menjelaskan melalui sabdanya: “ Awwaalu maakhalaqa nuuru nabiyyika ya jabir wa khalaqa minhul asyyaa’a wa anta min tilka asyaa’a.” artinya, “ Yang mula-mula diciptakan adalah Nur Nabimu Wahai Jabir ( Nur Muhammad ) dan dari Nur tersebut diciptakan segala sesuatu dan kamu adalah bagian dari segala sesuatu tersebut.”
Dari penjelasan hadist tersebut dapat kita ketahui bahwa bibit atau dasar penciptaan manusia dan makhluq-makhluq yang lain adalah Nur Muhammad. Dan Nur Muhammad berasa dari Nur Allah. Jadi, semua yang ada dijagat raya ini berasal dari Allah atau berasal dari Dzat Qadim yang azali dan abadi.
Kalau semua berasal dari Allah, lalu hendak kemana kembalinya semua yang ada ini? Dalam hal ini Allah SWT menjawab melalui firmanNya, “ Innaa lillaahi wa innaa illaihi raji’uun.” Artinya, “ Sesungguhnya kita semua adalah milik Allah dan sesungguhnya kita semua akan kembali kepadaNya.”
     Oleh karena itu, dalam menghadapi segala sesuatu kita harus bias mengembalikan kepada Yang Qadim ini. Dalam artian, kita tidak bias apa-apa, tidak memiliki apa-apa. Semua persoalan datangnya dari Alllah dan kesana pula kita kembalikan segala persoalan tersebut. Dengan demikian hati kita tetap Manunggal dengan yang Qadim. Kalau hati sudah manunggal dengan yang qadim, maka otomatis hati kita akan lapang, akan jembar, akan luas sebagaimana luasnya Samudera Hayat yang tidak bertepi. Firman Allah SWT. “ Wa man yatawwakal ‘alallaahi fahuwa hasbuhu.” Artinya , “ Barangsiapa yang bertawwakal kepada Allah, maka Allah akan memberikan kecukupan kepadanya.”
Tetapi sebaliknya, jika didalam menghadapi segala sesuatu kita merasa bisa menyelesaikan sendiri, tidak dikembalikan kepada yang qadim, kita lupa akan Innaalillahi wa inna illaihi raji’uun, maka sungguh kita akan mendapat kesulitan besar. Kita akan stress, bingung, mumet dan sebagainya. Kalau sudah demikian kita tidak mempunyai keluasan didalam menjalani kehidupan ini. Kesulitan demi kesulitan akan terus kita hadapi. Inilah makna firman Allah: “ Waman a’radla’an dzikrii fa inna lahu ma’iisyatan dlankaa.” Artinya, “Barangsiapa yang berpaling dari mengingatKu maka adalah baginya penghidupan yang sempit.”
Oleh karena itu kita harus bias menghapus sifat-sifat keminter atau merasa mampu untuk bisa menyelesaikan sendiri segala persoalan yang kita hadapi.
   Dalam hal ini orang jawa memberikan paweling atau nasehat: “ Ojo rumongso biso ananging bisoho ngrumangsani.” Maksudnya adalah kita jangan menjadi orang yang sok, sok pintar, sok jagoan, sok hebat dan sok-sok yang lainnya. Tapi kita harus menyadari bahwa kita ini asalnya tidak ada. Bagaimana mungkin sesuatu yang tidak ada bisa mengadakan sesuatu? Yang ada hanyalah Dzat yang qadim itu sendiri. Berarti hanya Dia sajalah yang dapat menciptakan dan meniadakan sesuatu. Inilah makna: “ Laa haula walaa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘adhiim.” Tidak ada daya dan kekuatan kecuali daya dan kekuatan Allah SWT.
b           Baqa artinya, kekal . maksudnya adalah Dzat Allah SWT hidup terus selamanya tidak pernah mati dan tidak mengalami kerusakan atapun perubahan.
Dari dulu sejak azali sampai kapanpun tetap seperti itu keadaannya, tidak berubah sama sekali. Hal ini sebagaimana firmanNya: “ Kullu syai’in haalikun illaa wajhahu.” Artinya, “ Segala sesuatu adalah rusak kecuali wajahNya.”  Orang jawa mengatakan: “ Tan Kena Owah Gingsir Ing Kahanan Jati.” Kahanan jati atau keadaan yang sebenarnya, itulah yang tidak mengalami kerusakan dan perubahan. Dari dulu sampai sekarang dan sampai kapanpun ya begitu itu keadaannya.
     Dalam diri manusia juga ada sesuatu yang bersifat Langgeng atau tidak bisa mengalami perubahan dan tidak kena pati, inilah yang disebut dengan istilah Manusia Sejati. Dalam serat wirid hidayat jati disebutkan demikian:  Ya Ingsun kanga ran manungsa sejati, urip tan kena ing pati tetep langgeng tan kena owah gingsir ing kahanan jati. Jangan bingung, Aja was sumelang. Manusia adalah rahasiaKU dan AKU adalah rahasia Manusia. Demikian bunyi firman Allah yang disampaikan melalui lisan Nabi Muhammad SAW. Ingat antara Dzat dan Sifat tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Jasad manusia adalah sifat yang bersifat fana’, sedangkan batin manusia adalah dzat yang bersifat Baqa’. Dengan demikian lahir batin Allah ada pada diri kita pribadi.
     Untuk dapat menyatu terus dengan Sang Baqa’, maka kita harus melakukan Riyadlah atau latihan-latihan spiritual melalui bimbingan seorang Master atau Guru MURSYID. Guru atau Mursyid yang dimaksud adalah orang yang betul-betul faham dengan ilmu ini. Artinya orang yang sudah tahu tentang Sangkan Paran dan mendapat Hibah atau Ijazah untuk mengajarkan ilmu tersebut. 
               Mukhalafatu lil hawaditsi, artinya berbeda dengan yang baru.Wujud Dzat Allah yang bersifat qadim adalah berupa Nur atau Cahaya. Hal ini dijelaskan oleh Allah didalam Al-Qur’an Surah Annur ayat 35. Adapun sifat cahaya-Nya adalah Nuurun ‘ala nuurin, chaya diatas cahaya. Artinya Dia adalah sumber dari segala sumber cahaya. Adapun jagat raya dengan segala isinya ini adalah merupakan pancaran dari Cahaya-Nya. Bagaiman mungkin sesuatu yang hanya sekedar bias atau pancaran ini bisa menyamai sumber aslinya. Jadi Nur yang merupakan Manba ‘ul awwal atau sumber yang pertama tidak bisa diserupai oleh sesuatu yang merupakan biasnya. Firman Allah, “Wa lam yakun lahuu kufuwan ahad.” Artinya, Tidak ada sesuatupun yang setara dengan-Nya. Kita ambil perumpamaan matahari dan bulan. Pada malam hari kita melihat bulan bersinar menyinari bumi. Sinarnya masuk kedalam lubang ventilasi rumah kita, kemudian mengenai cermin almari dan selanjutnya oleh cermin tersebut sinar bulan dipantulkan ke lantai. Lantai akan menjadi terang karenanya. Lantai menjadi terang karena pantulan cahaya cermin, cermin bersinar karena cahaya bulan, sedangkan bulan memantulkan cahaya dari matahari. Dalam hal ini matahari kita sebut sebagai sumber cahaya yang pertama, sedangkan bulan yang kedua, cahaya cermin hanya merupakan bias saja dari cahaya matahari. Samakah cahaya bulan, cahaya cermin dengan cahaya matahari yang medrupakan sumber cahaya? Tidak. Bahkan bulan dan cermin pada hakikatnya tidak memiliki cahaya. Cahaya bulan dan cermin adalah milik matahari. Maka salahkah jikalau ada orang yang berkata: “ Sebenarnya yang menyinari lantai bukan cermin ataupun bulan, melainkan matahari.”
       Cahaya matahari dalam perumpamaan diatas disebut cahaya hakiki sedangkan cahaya selainnya disebut cahaya majazi. Dalam perumpamaan diatas bisa kita kembangkan lebih jauh lagi. Sinar matahari bisa dimanfaatkan berbagai keperluan. Seperti dijadikan penggerak mobil tenaga surya, kalkulator dan lain-lain. Hakikat sinarnya tetap satu tidak berubah-ubah. Tetapi bentuk pancarannya bermacam-macam. Intinya tetap satu yang tidak bisa diserupakan, yaitu Tenaga Inti Matahari. Jadi yang berbeda satu sama lain adalah bentuk pancarannya.
     Dari contoh-contoh diatas , maka kita dapat tarik benang kesimpulan, bahwa Dzat Allah yang merupakan wujud hakiki tidak bisa diserupai oleh selain-Nya yang hanya merupakan wujud majazi. Dan bahkan, sesuatu yang bersifat majaz ini adalah berasal dari Nya. Maka salahkah bila orang yang berkata: “ Sebenarnya tidak ada yang wujud kecuali wujudNya.” Dzat yang bersifat Hayyu tetap satu adanya. Adapun pancaran dari Al-Hayyu itu sendiri bermacam-macam. Ada yang menjadi manusia, hewan, tumbuhan dan lain-lain. Dari sini Mukhalafatu lil hawaditsi bisa kita artikan, berbeda bagi yang baru. Artinya berbeda-beda bentuk dan wujudnya ini hanyalah sesuatu yang baru, sedangkan esensi atau saripati dari sesuatu yang baru ini tetap satu adanya dan tidak mengalami perubahan. Inilah makna wujudul wahdah fil katsrah ( adanya yang satu pada yang banyak ) atau Wujudul katsrah fil wahdah ( adanya yang banyak pada yang satu ).
d          Qiyamuhu binafsihi. Artinya, berdiri dengan Dzat-Nya Sendiri. Maksudnya adalah Dzat Allah tidak butuh kepada yang lain, untuk meniadakan atau mewujudkan-Nya.
Bagaimana mungkin Dzat yang akbar ini membutuhkan selain-Nya, yang nyata-nyata memang tidak ada? Bahkan kalau boleh diibaratkan; bumi, langit dan semua yang tersebar dijagat raya ini adalah ibarat kuman didalam perut gajah yang bengkak. Ibarat ini mengisyaratkan, betapa Dzat Allah ini melingkupi seluruh alam semesta ini. Dengan keperkasaan Dzat-Nya inilah, Dia berhak mengatur dan berbuat apa saja terhadap semua makhluq-Nya tanpa membutuhkan pertolongan siapapun juga, dan tidak ada satupun yang bisa menghalang-halangi apa yang dikehendaki-Nya. Inilah makna firmna-Nya:  “Innallaah ghaniyyun’anil ‘aalamiin.” Artinya, Sesungguhnya Allah Maha Kaya tidak membutuhkan dari alam semesta. 
      Allah tidak membutuhkan pertolongan sesuatupun didalam AF’AL-Nya. Termasuk ngelar-ngracut ( mencipta-menghapus ) jagat raya dengan segala isinya ini. Semua yang tersebar dijagat raya ini bergerak atas kehendak-Nya. Tidak ada satupun gerak dan perbuatan makhluq, melainkan atas kehendak-Nya. Jadi, semua gerak dan perbuatan makhluq adalah Af’al atau perbuatan Allah SWT. Hal ini sesuai dengan firman-Nya: “ Wa maa ramaita idzramaita walaakinnallaaha ramaa.” Artinya : “ Bukan kamu yang melempar ( Hai Muhammmad ) ketika kamu melempar, melainkan Allah-lah yang melempar.”
      Berkata seorang penyair arab: “ Walau khatharat lii fiisiiwaaka iraadatun, ‘alaa khatirii sahwan qadlaitu biriddatii.” Artinya : “ jika terlintas kilas dalam khatarku (ungkapan yang sangat halus dari dalam hati) ada kehendak lain selain daripada kehendak-Mu, aduhai remuk redam diriku di lumpur kemurtadan.”
Lebih tegas lagi, Allah SWT menjelaskan melalui firman-Nya, “ Wallaahu khalaqakum wamaa ta’maluuna.” Artinya:  “ Allah yang menciptakanmu dan yang menciptakan perbuatanmu.”
     Jadi Qiyamuhu binafsihi, mempunyai pengertian, Allah Ada dengan Dzat-Nya sendiri, dan dengan Dzatnya inilah manusia dan semua makhluq berkarya dan beraktifitas sesuai dengan fungsi dan tugasnya masing-masing. Dengan Dzat-Nya inilah orang-orang mukmin dapat melakukan shalat, puasa, haji dan macam-macam amal ibadah. Dan dengan Dzat-Nya inilah orang-orang Arifbillah dapat mengenal dan melihat Tuhannya.  Seseorang bertanya kepada Syech Dzunnun Al-Mishri, “ Bima ‘arafta rabbaka?” dengan apa tuan dapat melihat Tuhan?. Dijawab oleh beliau,” Araftu rabbi bi rabbi,”  aku melihat Tuhanku dengan Tuhanku. Demikianlah semuanya dapat terjadi karena bersama dengan Dzat Allah. Maka iqrar yang kita ucapkan ketika sedang shalat adalah, “ Inna shalaati wa nusukii wa mahyaaya wa mamaatii lillaahi rabbil ‘aalamiin, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, matiku adalah milik Allah, Tuhan sekalian Alam.
e           Wahdaniyyat, Allah Maha Esa. Allah Tunggal, tunggal dalam Dzat, Sifat, Asma’ maupun Af’al.
Tidak ada Dzat kecuali Dzat-Nya Allah. Tidak ada Sifat kecuali Sifat-Nya Allah. Tidak ada Asma’ kecuali Asma’-Nya Allah. Tidak ada Af’al kecuali Af’al-Nya Allah. Inilah makna " Qul huwallaahu ahadun.” Katakanlah hai Muhammad, Allah itu Satu. Juga ayat yang menerangkan, “ Wa ilaahukum ilaahu waahid, laa ilaaha illa huwarrahmaanurrahiim.” Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada kecuali Dia yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang. Setelah kita menyadari bahwa Tuhan kita adalah Tuhan yang Satu, yang tidak ada sekutu bagi-Nya sekarang yang menjadi pertanyaan: “ Dimana Dia?” Untuk menjawab pertanyaan tersebut gampang-gampang susah, gampang karena jawabannya sudah ada dalam Al-Quran. Dalam surah Qaf, ayat 16 disebutkan, “ Wa nahnu aqrabu ilahi min hablilwarid.” Aku lebih dekat daripada urat leher. Juga firman-Nya yang lain, “ Fainamaa tuwalluu fatsamma wajhullaahi.” Kemanapun kamu menghadap disitu wajah Allah. Dalam redaksi ayat yang lain juga dijelaskan bahwa Allah SWT bersemayam diatas Arsy ( Tsummastawaa ‘alal ‘arsy )
     Jawaban atas pertanyaan diatas akan  menjadi susah kalau timbul pertanyaan baru, misalnya: “ Kalau Allah lebih dekat dari urat nadi berarti Allah berada dalam diri manusia, kalau Allah berada dalam diri manusia, berada  Dia terbatasi oleh dimensi ruang dan waktu. Padahal Allah bersifat Akbar dan berarti pula pada diri setiap manusia ada Allahnya, berarti Tuhan tidak hanya satu, melainkan banyak, sebanyak makhluq yang tersebar dijagat raya ini?” Kalau kemana saja kita menghadap disitu adalah Wajah Allah, berarti kita menghadap batu, menghadap matahari, menghadap hewan, tumbuhan juga menghadap Allah? Dan kalau Allah bersemayam diatas Arsy berarti keberadaan Arsy masih lebih luas dibandingkan dengan Allah? Padahal Allah adalah Dzat yang Wasyii’un ‘aliim. Dzat Yang Maha Luas dan Maha Mengetahui? Dan ayat diatas satu sama lain saling bertentangan, yang satu ayat menjelaskan berada dalam diri manusia, satunya lagi menjelaskan dimana saja, satunya lagi menjelaskan diatas Arsy, bukankah ini sesuatu yang mustahil, jika terjadi perbedaan antara ayat yang satu dengan ayat yang lain? Mana yang benar?
     Pertanyaan tersebut memang sulit dijawab bagi orang yang belum memahami Jatining Agesang atau Agesang Sejati atau belum memahami hakikat dirinya. Apalagi bagi orang yang tertutup mata hatinya, yang oleh Allah sendiri telah dijelaskan melalui firman-Nya: “ Waman kaana fii haadzihil a’ma ‘fahua fil akhiirati a’ma wa-adlallu sabiilaa.” Artinya, “ Barangsiapa yang buta mata hatinya didunia maka akan buta pula di akhirat bahkan lebih sesat jalannya.” Bagi orang yang telah Futuh (dibuka) mata hatinya oleh Allah, sehingga dia dapat musyahadah (menyaksikan) keindahan Allah bi ‘ainil bashiirah ( dengan penglihatan mata batin) juga akan kesulitan memberikan jawaban kepada orang yang belum sampai kesana dan apalagi yang sama sekali tidak ada keinginan atau ghirah untuk bermakrifat kepada Allah. Sama sulitnya menceritakan rasa manisnya madu kepada orang yang sama sekali tidak pernah merasakan bahkan melihat madu.
     Sayyidina Ali, juga Abu Hurairah berkata:  “ Aku diberi dua karung mutiara Ilmu oleh Rasulullah SAW, yang satu karung aku sebarkan dan yang satunya lagi aku simpan, sebab jika yang sekarung ini aku sebarkan aku akan dianggap penyembah berhala, dan laki-laki muslim akan menghalalkan darahku.”
Dalam hal ini Rasulullah SAW, memberikan jawaban secara bijaksana ketika seseorang bertanya tentang IHSAN, “ Al ihsaanu hua anta’budallaaha ka-annaka taraahu fa-inlam takun taraahu fainnahu yaraaka.” Artinya, Ihsan adalah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, jika kamu tidak mampu melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” Amin. Wallahu 'alam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar